Nahda Ulmiati
Hari ini cukup membuat ku sepi akan kehadiran kebahagian
Hari ini seperti sebuah mimpi yang tak ingin ku ulang lagi
Hari dimana semua seperti lupa akan adanya sosok anak perempuan
Yang pernah datang didunia pada hari ini
Hari sepi yang datang tanpa ku sangka kedatangan di hari ini
Hari ini saya berterima kasih pada rasa sepi karena saya dapat banyak peljaran
Belajar lebih bersabar dan mengerti akan kepentingan dan kesibukan
Belajar dari renungan kesepian malam ini bahwa harus lebih baik lagi
Belajar menghargai rasa sepi tanpa penyesalan telah membawaku pada kesedihan semalaman
Hanya satu yang tak bisa kupelajari, melupakan rasa sepi malam ini..
Rasa hampa, rasa sunyi, rasa sepi yang memunculkan kesedihan tersendiri
Terima kasih hari ini..

 Tuhan, ajarkan ku ikhlas untuk melupakan hari sepi ini
Walaupun senyum ini merekah merah namun, tak bisa menutupi sepenuhnya rasa sepi yang kurasakan hari ini..
Mungkin pintaku dan rencanaku  untuk bahagia di hari ni teramat besar dan sempurna  untuk dikabulkan
Makanya Engkau menundanya,

Pintaku Tuhan, di tanggal dan bulan yang sama di tahun selanjutnya, hilangkan rasa sepi ini dan ganti dengan kebahagian yang tertunda di malam ini...
Rasa sepi pergilah sejauh mungkin, agar kebahagian bisa datang menghampiriku beserta orang"sekitarku..

Terima kasih sekali lagi rasa sepi dimalam ini, sayonara... 😭

Nahda Ulmiati

Pada suatu kelas, seorang dosen mengadakan suatu permainan kecil pada mahasiswanya yang sudah berumah tangga.
Dosen : "Mari kita buat satu permainan, mohon satu orang bantu saya kedepan".
Kemudian salah satu mahasiswa berjalan menuju papan tulis.
Dosen : "Silahkan tulis 10 nama yang paling dekat dengan anda".
Dalam sekejap sudah dituliskan semuanya oleh mahasiswa tsb, ada nama tetangganya, nama ortunya, anaknya, dll.
Dosen : "Silahkan coret 2 nama yang menurut anda tidak penting".
Mahasiswa lalu mencoret nama tetangganya..
Dosen : "Silahkan coret 2 nama lagi".
Mahasiswa itu mencoret nama teman2 kantornya..
Dosen : "Silahkan coret 1 nama lagi".
Mahasiswa mencoret 1 nama lagi sampai tersisa 3 nama yaitu ortunya, istrinya dan anaknya.
Suasana kelas hening, mereka mengira semua sudah selesai dan tidak ada lagi yang harus dipilih. Tiba2 Dosen berkata : "Silahkan coret 1 nama lagi". Mahasiswa itu perlahan mengambil pilihan yang sangat sulit lalu dia mencoret nama ortunya secara perlahan.
Dosen : " Silahkan coret 1 nama lagi". Hati sang mahasiswa menjadi bingung. Kemudian dia mengangkat kapur dan lambat laun mencoret nama anaknya..
Segera mahasiswa itu pun menangis..
Setelah suasana tenang, Dosen bertanya kepada mahasiswa itu,
"Orang terkasih anda bukan ortu yang sudah membesarkan anda, anak anda adalah darah daging anda,sedang istri itu bisa dicari lagi, tapi mengapa anda justru memilih istri anda sebagai orang yang paling sulit untuk dipisahkan ?".
Semua org di dalam kelas terpana menunggu jawaban mahasiswa itu, lalu dia berkata :
"Sesuai waktu berlalu, ortu saya akan pergi dan meninggalkan saya, sedangkan anak saya jika sudah dewasa akan menikah setelah itu pasti meninggalkan saya, sedangkan yang benar2 bisa menemani saya dalam hidup ini hanyalah ISTRI saya... Ortu dan anak bukan saya yang pilih tapi TUHAN yang anugrahkan kepada saya, tapi saya memilih sendiri ISTRI saya dari seluruh wanita di dunia dengan meminta yang terbaik dari TUHAN ".
Nahda Ulmiati
   Menjengkelkan hal pertama mengenalnya di dunia, punya saudara laki-laki yang begitu nakal semenjak kecil, sering membuatku marah sampai menangis akan semua hal yang ia lakukan padaku kadang saya berpikir semoga aja saya bisa gak idup bersama sosok seorang adik kayak dia pintaku dulu.
Setiap hari kerja kami berdua hanyalah bertengkar-bertengkar-bertengkar dan bertengkar tak pernah akur. Mamaku  pun berpikir “kalian Cuma berdua tapi kami merasa punya sebelas anak karena perbuatan kalian” kata itu masih saya ingat. Sedangkan sang bapak Cuma berkata “sekalian aja saling melukai niihh pisau dan satunya pegang gunting”  Kerja orang tua kami memang bergelut pada gunting, mesin jahit, kain, benang, dan lain-lainnya karena orangtuaku konveksi :D 
Bapakku  pernah begitu marah pada kami sehingga mengikat kami pada salah satu tiang rumah, mamaku pun menangis melihat kami berdua disiksa begitu.
Tapi aku sadar semua itu dilakukan agar kami berdua bisa akur dengan cara sang bapak tentunya. Berbeda lagi dengan cara sang mama yang sering memanjakan kami dengan memberikan apa yang kami inginkan.
Kembali lagi bercerita dengan sosok adik yang jengkelkan tersebut, dia itu orang yang sangat lelet hingga hamper tiap sebelum kesekolah saya harus mendahuluinya ke kamar mandi. Itu karena dia sangat lama di dalam kamar mandi, memakai baju, celana, ampe kaos kaki. Sangat menjengkelkan pokoknya.
Suatu hari dia digangguin ma teman sekelasnya yang jauh lebih besar dari dia kalo nda salah namanya embun. Salah satu temannya memberitahukan hal tersebut padaku. Tanpa berpikir panjang saya datangi aja tuh embun dengan menbawa teman-teman saya 2 cowok 2 cewek yahh paling tidak berlima lah menggunakan sapu. Kasihan juga liat dia digangguin pas SD. Bemana pun dia adik saya, saya masih punya kontak batin terhadapnya.
Sangking menjengkelkannya dia, sulit kulupakan hal-hal tentangnya dan kelakuan yang menjengkelkannya. Pas SMP dia minta pada orangtua ku untuk dipindahkan ke pesantren awalnya saya senang sekali. Akhirnya pintaku terkabul  Tuhan. Itulah hal yang membuatku berpikir panjang lagi, kalo dia pindah siapa yang menemaniku berkelahi?? Sedangkan adik kedua saya yang bernama farid masih kecil, yang ada saya hanya menjagainya saja.
Beberapa hari kepergiannya ke sekolah pesantren membuatku rindu akan sosok adik yang menjengkelkan tersebut. Tak sadar ku meneteskan air mata dibalik pintu kamar tanpa seorang yang tau akan hal itu. Dalam hati ku berkata “Aku rindu kamu adikku yang menjengkelkan, apa kau rindu berkelahi denganku juga”.
Kedatangannya kembali pas dah SMA membuatku kembali jengkel dengan sifatnya yang urakan, sering membuat mamaku menangis memikirkannya, sering membuat orangtua sekaligus saya cemas akan apa yang dilakukan diluar sana bersama teman-temannya yang menurutku dia salah dalam memilih teman dengan pulang larut malam dan kadang tidak pulang juga. “dik, apa kau tak merasakan perih yang mama rasakan??” pengen rasanya memberontak melawan mu tapi kusadar sekarang kekuatanmu lebih besar daripada saya.
“Sekarang pintaku tidak macam-macam Ya Tuhan, buat adikku kembali pada kami. Jaga dia dalam sikap dan perbuatannya. Jangan sampai dia terjerumus jauh dari apa yang telah Engkau tuliskan. Ingatkan dia akan apa itu kasih sayang Orangtua terutama mamaku Ya Tuhan, ingatkan pula tentang karma tetesan air mata sang mama. Adikku sayang, kembali lah dan dewasalah dalam menghadapi hidup, karena tidak selamanya kita selalu diatas seperti sekarang. Kusayangimu adikku yang sering menjengkelkan” pintaku.
Perubahanpun mulai terlihat ketika dia beranjak dari bangku SMA, Dia mulai berhenti membangkan setidaknya kurang membangkang pada orangtua dan lebih sering dirumah. Itu lah keinginanku padaMU TUHAN yang sedikit-demi sedikit Engkau perlihatkan melalui mata dan hati yang diberikan padaku. Adikku yang dulunya menjengkelkan kini berangsur-angsur dewasa dengan umurnya yang kini bukan anak-anak lagi. Bersyukur kata itu yang membuatku sekarang Bahagia punya adik seperti dia J
Sekarang, dia menjadi sosok yang sangat pengertian, menjadi teman curhat dan bertukar pikiranku. Salah satu yang mengisi kekosongan hari-hariku. Menjadi sosok anak yang mulai mengerti beban orangtuanya, semoga hal ini awal dari kehidupanmu yang lebih baik adikku. “Terima kasih Tuhan telah mengabulkan semua pintaku terhadapa adikku yang menjengkelkan, dia memang menjengkelkan tapi hal itu yang kurindukan darinya. Sekali lagi terima kasih Tuhan memberikanku sosok adik sepertinya”  ini semua tentang dirimu adikku Sadri. :*
Nahda Ulmiati

Nahda Ulmiati
                                                                                            Kepada Mama tercinta
                                      yang senantiasa ada untukku

     Assalamu Alaikum Wr. Wb.

            Mamaku tercinta  dan  paling aku sayangi, sebelumnya aku kepengen mengucapkan beribu-ribu terima kasih telah melahirkanku di dunia ini, sehingga aku bisa melihat maha besar ciptaan Tuhan akan kuasanya menciptakan segala isi bumi ini. Sembilan bulan lamanya engkau menjagaku dalam kandunganmu dan tak letih-letihnya engkau membawaku kemanapun kau berada. Saat  melahirkan aku ke dunia ini, engkau rela dan pasrah diri agar aku bisa hidup dan melihat dunia ini.Memberiku kasih sayang dan cinta yang begitu tulus, semua jasa-jasamu tak bisa sebanding dengan apa yang bisaku berikan untukmu mama.

            Sekarang aku telah beranjak dewasa, aku masih ingat sewaktu aku kecil dulu. Ketika engkau mengajarkan aku berjalan, berhitung dan membaca, padahal aku tahu engkau pasti letih seharian mengerjakan pekerjaan rumah begitu banyak terlebih lagi harus membantu ayah bekerja. Sungguh aku sangat bangga mempunyai seseorang sepertimu mama. Walaupun semanjak kehadiran adikku, engkau selalu menitipkan aku kepada nenek karena mungkin tak sanggup menjaga kami berdua.

            Belum genap umurku 4 tahun, nenek telah tiada. Sehingga aku kembali merasakan kasih sayang darimu mama. Setiap malam, setelah  selesai akan pekerjaan rumah dan membantu ayah,  engkau menyempatkan waktu untuk mengajarkan aku bernyanyi dan, karokean bersama karena engkau tahu betapa lincahnya aku berbicara sewaktu kecil. Lagu yang sering engkau putar masih aku ingat, potongan baitnya pun masih jelas tersimpan di otakku “Bila kau rindu baliklah bantalmu, biar di dalam mimpi kita akan bertemu” penyanyinya pun aku masih ingat ma’.

            Ketika beranjak remaja, engkau selalu berkata padaku “Belajarlah untuk bisa menjadi anak yang mandiri, jangan selalu bersikap manja walaupun engkau satu-satunya anak perempuanku”. Iya, kan ma’ itu yang pernah engkau katakan padaku? Semenjak itu aku belajar untuk melakukan semua hal seperti yang engkau kehendaki dan aku pun bertujuan membahagiakan ayah terutama engkau mama.

            Maafkan anakmu ini mama, yang pernah membuatmu sedih akan tingkahnya semasa SMA dulu. Mungkin karena aku terlalu diberi kebebasan untuk bergaul dengan teman-temanku di luar rumah sehingga aku lupa akan kewajibanku sebagai anak. Sampai-sampai engkau pernah menuliskan surat untukku agar aku berubah dan menjadi anak yang selalu berada di rumah. Surat itu engkau taruh di atas meja belajarku. Engkau tahu ma’ aku sangat menyayangimu, sewaktu aku membaca surat darimu tak hentinya air mataku menetes. Sebenarnya aku juga kepengen jadi anak seperti yang engkau mau, tapi saya merasa tak disayangi lagi semenjak engkau sibuk membantu ayah dengan pekerjaan yang mulai maju ditambah lagi aku selalu dibandingkan dengan adikku.

Semenjak aku telah membaca surat darimu mama, aku sadar bahwa semua yang engkau lakukan. Mulai dari sibuknya engkau membantu pekerjaan ayah yang mulai maju hingga kesibukan mengurus pekerjaan rumah yang membuat engkau lupa akan aku. Itu semua engkau lakukan demi kebaikan aku dan juga adik-adikku. Sungguh bodohnya aku telah membuat seseorang yang begitu sayang padaku menjadi sedih. Sekali lagi, maafkan aku mama.

Sejak aku kecil hingga aku seperti ini, engkau senantiasa mendengarku bercerita akan pengalaman-pengalamanku dimulai dari teman-teman yang selalu menjahiliku, masalah persahabatanku dengan sahabat-sahabat terdekatku hingga orang yang yang aku sukai. Engkau tidak hanya menjadi sosok seorang mama yang patut aku banggakan dan teladani, tapi engkau juga sosok sahabat untuk berbagi cerita, dan memberiku solusi dalam masalah yang aku hadapi. Sekarang aku telah terpisah jarak yang cukup jauh darimu mama. Karena harus melanjutkan sekolahku ke perguruan tinggi di Makassar, hanya lewat telpon dan sms aku bisa memberi kabar akan diriku. Mama, aku menginginkan engkau selalu ada disampingku. Jujur sebagai anak sulung dan satu-satunya anak perempuanmu, aku masih tak bisa hidup tanpamu. Aku masih membutuhkan perhatian lebih dan kasih sayang darimu.

Sebelum aku ke Makassar, engkau sempat berkata padaku “Hanya sebuah kepercayaan yang aku berikan padamu, jangan sia-siakan kepercayaan ini. Buatlah bangga aku dan ayahmu di kampung dengan prestasi-prestasimu di bangku kuliah” kata-kata itu masih terngiang di telingaku dan tak akan kulupakan. Betapa bahagianya aku mempunyai seorang mama sepertimu, yang selalu menyayangiku. Aku tak akan menyia-nyiakan kepercayaanmu itu mama. Engkau juga sempat berkata padaku, “Doa mama selalu menyertai langkahmu nak”. Sejuknya hatiku, setiap mengingat perkataanmu. Mendengar suaramu walau hanya ditelpon saja dan balasan sms darimu mengobati rasa rinduku padamu.

Di hari Ibu ini, aku ingin mengucapkan terima kasih padamu mama. Semua yang engkau lakukan tak meminta balas kasih sedikitpun, dalam benakmu hanyalah keberhasilanku. Engkau  bagaikan penyejuk hatiku dikala aku sedih dan gelisah akan masalah-masalah yang kuhadapi. Engkau suri teladan yang begitu sempurna dimataku. Cinta dan kasih sayang yang engkau berikan tak bisa kubayar dengan apa-apa, karena semua yang kulakukan tak akan sebanding dengan apa yang engkau lakukan demi aku.

Terima kasih atas semua yang engkau lakukan untukku mama, sungguh aku menyayangimu  mama..

Wassalam,

Dari

anakmu tersayang

Nahda Ulmiati

Pada suatu hari aristoteles bertanya pada gurunya "apa arti cinta sejati itu ?"
Gurunya pun menatapnya dan menjawab, "mulailah berjalan di taman bunga luas yang penuh dengan kecantikan bunga-bunga disana.
Petiklah satu bunga yang menurutmu indah dan menarik hatimu. Kemudian  jangan pernah berbalik  ke belakang untuk menoleh atau mengambil bunga lain lagi."
Kemudian aristoteles pun melakukannya, sesuai dengan perintah sang guru.
Tapi dia kembali dengan tangan hampa dan wajah kecewa bercampur kesal.
Gurunya pun bertanya padanya "mana bunga yang kamu sukai ?"
Dia menjawab dengan nada rendah "Saya tidak mendapatkannya,  sebenarnya saya telah menemukannya."
Tapi saya berpikir "Mungkin di depan masih ada yang lebih cantik dan menarik lagi. . ."
Ketika saya sampai di ujung taman, saya baru sadar bahwa yang saya temui pertama tadi adalah bunga yang terbaik.
Saya menyesal dan tidak mungkin untuk kembali ke belakang lagi, karena persyaratan dari guru tidak boleh berbalik selain itu bunga tersebut sudah ada yang mengambilnya..."
Gurunya pun berkata  "Seperti itulah cinta sejati, semakin kamu mencari yg terbaik, maka kamu tak akan pernah menemukannya"


Jangan pernah menyia-nyiakan cinta seseorang yang tumbuh dan bersemi di hatimu sekarang, karena waktu tak akan pernah kembali untuk yang cinta sejatimu.

Nahda Ulmiati
   Kehadiranmu itu anugrah bagiku, berawal dari perhatian kecil yang kau berikan di sebuah acara keluarga di awal bulan agustus sampai susah payah mengobrak-abrik facebook mencari keberadaanku dalam dunia maya. Hingga pada akhirnya kau menemukanku tanpa bantuan siapun kecuali Tuhan dan usahamu. Menunggu konfirmasi pertemananku. dan mulai lah percakapan lucu di dunia maya. Awalnya saya, tak begitu bisa membaca gerak-gerikmu, tak bisa merasakan betapa besar usahamu untuk bisa berinteraksi lebih jauh denganku, tak bisa melihat kegigihanmu menemaniku berceloteh tanpa mempedulikan waktu yang berjalan. kamu tau tidak, baru kamu yang bisa membuatku  merasakan arti sebuah kata menunggu dengan buah kebahagian seperti yang kurasakan sekarang.
   Lucu sungguh lucu, mengingat kembali kejadian-kejadian awal saling mengenal, membuat lelucon konyol melalui handphone dengan selipan beberapa isyarat cinta yang sebenarnya saya dah mengerti dari awal cerita ini. hanya saja saya berusaha agar tidak cepat ke -GRan saja. Takut itu hanya sebuah bayangan semu yang sering kudapatkan dalam dunia nyata yang selama ini saya jalani sebelum bertemu denganmu. Dengan begini saya bisa mengetahui kesungguhan hatimu. Alasan lulus dengan universitas yang sama menjadi topik pertama dalam pembicaraan kita di dunia maya. Dilanjutkan dengan silsilah keluarga yang saya baru tahu dari kamu. Banyak belajar dari seorang anak bungsu dari tiga bersaudara.
   Sampai pada akhirnya saya ingin melihat sampai kapan kamu bertahan dengan tingkahku yang begini. tapi aneh tak berbeda dengan awal bberkenalan denganmu, kamu tetap sama. semakin hari, kita semakin akrab walau hanya dalam dunia maya dan handphone. Pernah saya kecewa padamu dalam dunia maya.tapi itu dulu.  Segera ku tepis mungkin itu rasa khawatir yang berlebihan menurutku. Akhirnya kujalani hari-hariku sebagai mahasiswa bukan sebagai siswi SMA lagi dengan langkah yang masih dibayangi dengan sifat kekanak-kanakanku di waktu SMA. Tiap hariku pasti tidak ilang dari bayangmu, dunia mayaku selalu ada kamu, handphone tanda pesan masuk pasti itu darimu. kamu seperti mengerti akan apa itu kebutuhan waktu sehingga smsmu selalu datang dimalam hari. Saya tidak pernah kesepian selama jauh dari orang tuaku.
    Kadang kuhibur diriku dengan mendengarkan lagu, melakukan aktifitas kampus yang menyibukkan diriku dan pernah berfikir untuk melakukan hal-hal lebih sibuk lagi.
Awal melihatmu di dunia nyata, kamu dengan menggunakan motor kakakmu membawa kan'ku coklat. Saya tidak tau darimana kamu tau saya senang dengan coklat itu katanya sebuah hadiah. ucapanku selalu saja telat "Makasih" menelponmu sebentar hanya untuk mengucapkan kata tersebut. Semua aktifitasku selalu terusik tentangmu, tentangmu di dunia maya dan di handphoneku. Hingga, di akhir bulan november ditahun 2010 menjadi awal dunia nyata kita berdua. Salah tingkah itu yang terjadi diantara kita berdua, kalau hal itu di ulang tak akan indah lagi karena pertamalah yang indah.
    Tahun berikutnya, mungkin kita bisa bertemu pada saat hari ulang tahun masing-masing karena cuma itu alasan kita bertemu. seorang gadis yang baru merasakan apa itu kasih sayang seorang cowok sebenarnya, dan rasa itu tidak ada slahnya sedikitpun karena ternyata rasa itu sama-sama dirasakan. Boneka kesukaanku menjadi alasan kedatanganmuu lagi dalam dunia nyataku. sebagai sebuah kado istimewa darimu. sungguh lucu hal itu terjadi di bulan novmber kembali.
     Akhirnya rasa tak mau kehilangan perhatian antra kita berdua berada pada masa yang tidak mengenakkan. di akhir tahun 2011. Rasa dimana curiga bersatu dengan rasa cemburu yang membara. hingga akhirnya sebuah pengakuan terbesar kamu lontarkan dan ternyata hal tersebut sama dengan apa yang kurasakan selama ini. Tanpa berfikir apa resiko dari pengakuan itu, facebook yang awalnya  menjadi jembatan saling mengenal menjadi saksi ikatan dua insan manusia yang ingin lebih saling mengenal lebih jauh lagi.