Nahda Ulmiati
   Menjengkelkan hal pertama mengenalnya di dunia, punya saudara laki-laki yang begitu nakal semenjak kecil, sering membuatku marah sampai menangis akan semua hal yang ia lakukan padaku kadang saya berpikir semoga aja saya bisa gak idup bersama sosok seorang adik kayak dia pintaku dulu.
Setiap hari kerja kami berdua hanyalah bertengkar-bertengkar-bertengkar dan bertengkar tak pernah akur. Mamaku  pun berpikir “kalian Cuma berdua tapi kami merasa punya sebelas anak karena perbuatan kalian” kata itu masih saya ingat. Sedangkan sang bapak Cuma berkata “sekalian aja saling melukai niihh pisau dan satunya pegang gunting”  Kerja orang tua kami memang bergelut pada gunting, mesin jahit, kain, benang, dan lain-lainnya karena orangtuaku konveksi :D 
Bapakku  pernah begitu marah pada kami sehingga mengikat kami pada salah satu tiang rumah, mamaku pun menangis melihat kami berdua disiksa begitu.
Tapi aku sadar semua itu dilakukan agar kami berdua bisa akur dengan cara sang bapak tentunya. Berbeda lagi dengan cara sang mama yang sering memanjakan kami dengan memberikan apa yang kami inginkan.
Kembali lagi bercerita dengan sosok adik yang jengkelkan tersebut, dia itu orang yang sangat lelet hingga hamper tiap sebelum kesekolah saya harus mendahuluinya ke kamar mandi. Itu karena dia sangat lama di dalam kamar mandi, memakai baju, celana, ampe kaos kaki. Sangat menjengkelkan pokoknya.
Suatu hari dia digangguin ma teman sekelasnya yang jauh lebih besar dari dia kalo nda salah namanya embun. Salah satu temannya memberitahukan hal tersebut padaku. Tanpa berpikir panjang saya datangi aja tuh embun dengan menbawa teman-teman saya 2 cowok 2 cewek yahh paling tidak berlima lah menggunakan sapu. Kasihan juga liat dia digangguin pas SD. Bemana pun dia adik saya, saya masih punya kontak batin terhadapnya.
Sangking menjengkelkannya dia, sulit kulupakan hal-hal tentangnya dan kelakuan yang menjengkelkannya. Pas SMP dia minta pada orangtua ku untuk dipindahkan ke pesantren awalnya saya senang sekali. Akhirnya pintaku terkabul  Tuhan. Itulah hal yang membuatku berpikir panjang lagi, kalo dia pindah siapa yang menemaniku berkelahi?? Sedangkan adik kedua saya yang bernama farid masih kecil, yang ada saya hanya menjagainya saja.
Beberapa hari kepergiannya ke sekolah pesantren membuatku rindu akan sosok adik yang menjengkelkan tersebut. Tak sadar ku meneteskan air mata dibalik pintu kamar tanpa seorang yang tau akan hal itu. Dalam hati ku berkata “Aku rindu kamu adikku yang menjengkelkan, apa kau rindu berkelahi denganku juga”.
Kedatangannya kembali pas dah SMA membuatku kembali jengkel dengan sifatnya yang urakan, sering membuat mamaku menangis memikirkannya, sering membuat orangtua sekaligus saya cemas akan apa yang dilakukan diluar sana bersama teman-temannya yang menurutku dia salah dalam memilih teman dengan pulang larut malam dan kadang tidak pulang juga. “dik, apa kau tak merasakan perih yang mama rasakan??” pengen rasanya memberontak melawan mu tapi kusadar sekarang kekuatanmu lebih besar daripada saya.
“Sekarang pintaku tidak macam-macam Ya Tuhan, buat adikku kembali pada kami. Jaga dia dalam sikap dan perbuatannya. Jangan sampai dia terjerumus jauh dari apa yang telah Engkau tuliskan. Ingatkan dia akan apa itu kasih sayang Orangtua terutama mamaku Ya Tuhan, ingatkan pula tentang karma tetesan air mata sang mama. Adikku sayang, kembali lah dan dewasalah dalam menghadapi hidup, karena tidak selamanya kita selalu diatas seperti sekarang. Kusayangimu adikku yang sering menjengkelkan” pintaku.
Perubahanpun mulai terlihat ketika dia beranjak dari bangku SMA, Dia mulai berhenti membangkan setidaknya kurang membangkang pada orangtua dan lebih sering dirumah. Itu lah keinginanku padaMU TUHAN yang sedikit-demi sedikit Engkau perlihatkan melalui mata dan hati yang diberikan padaku. Adikku yang dulunya menjengkelkan kini berangsur-angsur dewasa dengan umurnya yang kini bukan anak-anak lagi. Bersyukur kata itu yang membuatku sekarang Bahagia punya adik seperti dia J
Sekarang, dia menjadi sosok yang sangat pengertian, menjadi teman curhat dan bertukar pikiranku. Salah satu yang mengisi kekosongan hari-hariku. Menjadi sosok anak yang mulai mengerti beban orangtuanya, semoga hal ini awal dari kehidupanmu yang lebih baik adikku. “Terima kasih Tuhan telah mengabulkan semua pintaku terhadapa adikku yang menjengkelkan, dia memang menjengkelkan tapi hal itu yang kurindukan darinya. Sekali lagi terima kasih Tuhan memberikanku sosok adik sepertinya”  ini semua tentang dirimu adikku Sadri. :*
0 Responses

Posting Komentar