Menjengkelkan hal pertama mengenalnya di dunia, punya
saudara laki-laki yang begitu nakal semenjak kecil, sering membuatku marah
sampai menangis akan semua hal yang ia lakukan padaku kadang saya berpikir
semoga aja saya bisa gak idup bersama sosok seorang adik kayak dia pintaku
dulu.
Setiap hari kerja kami berdua hanyalah
bertengkar-bertengkar-bertengkar dan bertengkar tak pernah akur. Mamaku pun berpikir “kalian Cuma berdua tapi kami
merasa punya sebelas anak karena perbuatan kalian” kata itu masih saya ingat.
Sedangkan sang bapak Cuma berkata “sekalian aja saling melukai niihh pisau dan
satunya pegang gunting” Kerja orang tua
kami memang bergelut pada gunting, mesin jahit, kain, benang, dan lain-lainnya
karena orangtuaku konveksi :D
Bapakku pernah begitu marah pada kami sehingga mengikat kami pada salah satu tiang
rumah, mamaku pun menangis melihat kami berdua disiksa begitu.
Tapi aku sadar semua itu dilakukan agar kami berdua bisa
akur dengan cara sang bapak tentunya. Berbeda lagi dengan cara sang mama yang
sering memanjakan kami dengan memberikan apa yang kami inginkan.
Kembali lagi bercerita dengan sosok adik yang jengkelkan
tersebut, dia itu orang yang sangat lelet hingga hamper tiap sebelum kesekolah
saya harus mendahuluinya ke kamar mandi. Itu karena dia sangat lama di dalam
kamar mandi, memakai baju, celana, ampe kaos kaki. Sangat menjengkelkan
pokoknya.
Suatu hari dia digangguin ma teman sekelasnya yang jauh
lebih besar dari dia kalo nda salah namanya embun. Salah satu temannya
memberitahukan hal tersebut padaku. Tanpa berpikir panjang saya datangi aja tuh
embun dengan menbawa teman-teman saya 2 cowok 2 cewek yahh paling tidak berlima
lah menggunakan sapu. Kasihan juga liat dia digangguin pas SD. Bemana pun dia
adik saya, saya masih punya kontak batin terhadapnya.
Sangking menjengkelkannya dia, sulit kulupakan hal-hal
tentangnya dan kelakuan yang menjengkelkannya. Pas SMP dia minta pada orangtua
ku untuk dipindahkan ke pesantren awalnya saya senang sekali. Akhirnya pintaku
terkabul Tuhan. Itulah hal yang
membuatku berpikir panjang lagi, kalo dia pindah siapa yang menemaniku
berkelahi?? Sedangkan adik kedua saya yang bernama farid masih kecil, yang ada
saya hanya menjagainya saja.
Beberapa hari kepergiannya ke sekolah pesantren membuatku
rindu akan sosok adik yang menjengkelkan tersebut. Tak sadar ku meneteskan air
mata dibalik pintu kamar tanpa seorang yang tau akan hal itu. Dalam hati ku
berkata “Aku rindu kamu adikku yang menjengkelkan, apa kau rindu berkelahi
denganku juga”.
Kedatangannya kembali pas dah SMA membuatku kembali jengkel
dengan sifatnya yang urakan, sering membuat mamaku menangis memikirkannya,
sering membuat orangtua sekaligus saya cemas akan apa yang dilakukan diluar
sana bersama teman-temannya yang menurutku dia salah dalam memilih teman dengan
pulang larut malam dan kadang tidak pulang juga. “dik, apa kau tak merasakan
perih yang mama rasakan??” pengen rasanya memberontak melawan mu tapi kusadar
sekarang kekuatanmu lebih besar daripada saya.
“Sekarang pintaku tidak macam-macam Ya Tuhan, buat adikku
kembali pada kami. Jaga dia dalam sikap dan perbuatannya. Jangan sampai dia
terjerumus jauh dari apa yang telah Engkau tuliskan. Ingatkan dia akan apa itu
kasih sayang Orangtua terutama mamaku Ya Tuhan, ingatkan pula tentang karma tetesan
air mata sang mama. Adikku sayang, kembali lah dan dewasalah dalam menghadapi
hidup, karena tidak selamanya kita selalu diatas seperti sekarang. Kusayangimu
adikku yang sering menjengkelkan” pintaku.
Perubahanpun mulai terlihat ketika dia beranjak dari bangku
SMA, Dia mulai berhenti membangkan setidaknya kurang membangkang pada orangtua
dan lebih sering dirumah. Itu lah keinginanku padaMU TUHAN yang sedikit-demi
sedikit Engkau perlihatkan melalui mata dan hati yang diberikan padaku. Adikku
yang dulunya menjengkelkan kini berangsur-angsur dewasa dengan umurnya yang
kini bukan anak-anak lagi. Bersyukur kata itu yang membuatku sekarang Bahagia
punya adik seperti dia J
Sekarang, dia menjadi sosok yang sangat pengertian, menjadi
teman curhat dan bertukar pikiranku. Salah satu yang mengisi kekosongan
hari-hariku. Menjadi sosok anak yang mulai mengerti beban orangtuanya, semoga
hal ini awal dari kehidupanmu yang lebih baik adikku. “Terima kasih Tuhan telah
mengabulkan semua pintaku terhadapa adikku yang menjengkelkan, dia memang
menjengkelkan tapi hal itu yang kurindukan darinya. Sekali lagi terima kasih
Tuhan memberikanku sosok adik sepertinya” ini semua tentang dirimu adikku Sadri. :*

Posting Komentar